h1

Kau Cinta Pertama dan Terakhirku

Oktober 13, 2009

Engga tau ada apa dengan lagu ini, tetapi mendengarnya seperti meretas sebuah jalan bernama waktu lalu menyambungkannya dengan elemen hati.

Sherina Munaf

h1

Gadis di Pagi Hari

Juli 14, 2009

Tak ada hal yang lebih menyegarkan, selain melihat anak perempuan berangkat ke sekolah.

Seperti pagi ini, Senin 13 Juli ‘09, seorang gadis berseragam biru-putih berdiri di tepi jalan, dibelakangnya para pedagang pasar tumpah sibuk dengan aktivitas bisnisnya. Dengan rambut terikat satu kebelakang, dengan pita nerah jambu persis seperti ekor kuda, lebih manis ketika dikengkapi seragam yang dimasukan ke dalam rok, sehingga ikat pinggang warna merah jambunya tidak tertutupi. Kaus kaki panjangnya yang menutupi betis menjadi pembeda waktu generasi ku dengannya. Beberapa saat kemudian seorang gadis lainnya menghampirinya. Adegan itu terjadi pada pukul 05.48 menurut jam di Handphoneku.

Segelas kopi yang sudah tidak panas lagi masih menjadi kawan setia dalam menikmati pagi ini. Cahaya pagi itu belum begitu terang, matahari masih malu untuk secara jelas menghadapi dingin dan memudarkan gelap. Bu Rini, sang penjual kopi yang kuminum, masih sibuk dengan persiapan pulang kerumahnya. Maklum, tempatnya berjualan  merupakan  halaman dari sebuah toko, sebentar lagi sang pemilik toko akan memulai kegiatannya, itu tandanya Bu Rini harus membersihkan halaman  milik si Tuan Toko yang dia pakai. Semalaman dia menemani para pedagang sayuran, buah-buahan dan pedagang lainnya menjual dagangannya. 8 tahun bersama dingin mengarungi malam menjadi pahlawan bagi mereka yang membutuhkan kehangatan dengan secangkir kopi, bandrek ataupun beberapoa buah gorengan.

Aroma kopi semakin menguatkan lamunan panjangku akan wanita tercantik. bukan tentang hasrat kepada gadis berkacamata yang ada ditempat lain, tetapi ini tentang perasaan kagum kepada dua orang gadis yang duduk diseberang mataku. Sejenak aku menganggap tak berarti beberapa wajah yang terpampang di majalah-majalah atau yang melintasi mataku di layar kaca setiap hari. Kosmetik tidak membantuku menilai mereka lebih baik dari dua dewi dihadapnku ini. Mereka  tak ber-lipstik tetapi senyumnya memberikan gairah dan semangat cita-cita. tak ada polesan make-up, selain polesan bedak yang begitu sederhana tetapi rona wajahnya jauh lebih bersih, sebersih tujuan mulia mereka bersama buku-buku ditangan.

Mereka menjadi sedikit dari gadis seusia mereka yang mempertahankan “originalitas” seorang wanita. Teman-teman sebayanya sudah banyak yang terjebak oleh iklan di televisi dan gaya hidup.

h1

Doa dari Bintang Jatuh

Juli 7, 2009

kang asep percanten kana mitos bentang jatuh?” tanya kawan perjalananku

perkawis permohonan anu dikabul? aku balik bertanya

muhun!ujarnya

percaya ga percaya!

bade nyobian?

hayu atuh!

kang asep ngadu’a naon?”

“mugi-mugi enjing langkung sae…”

ah, standar…

“semoga enjing sareng saterasna abdi, saderek sareng kulawargi aya dina kawilujengan…”

“aminn..!”

“ari akang ngadu’a naon?” tanyaku

“mugi-mugi kulawarga abdi, rerencengan sadaya sing di sehatkeun, saterasna, aranjeuna  aya dina kasalametan, kabagjaan….  jeung saterusna….”

kurang lebih itulah penggalan obrolanku dengan seorang kawan disuatu tempat yang sepi, begitu sepi meski kami tidak berdua. Obrolan tentang harapan tentang semua sahabat, dan orang yang hidup disekitar kami terutama kedua orang tuaku.  Inilah oleh-oleh yang aku bawa buat ibuku, dari liburan semalamku di Ciwidey. Sorry karena manisan yang dipesan tak terbeli…. hehe…

ditengah suara aliran sungai, dan sapaan embun yang memluk seluruh tubuh dan ruang antara kami dan segala benda di Situ Cangkuang……

Ciwidey, 27 Juni 2005

h1

Latar di Pasar Andir

Juli 7, 2009

SUBUH-FOTO ANTARA-Agus Bebeng-Koz-hp-07.Meluncur ditengah udara pagi kota bandung yang dingin, beberapa hari ini menjadi kegiatan rutin saya bersama Bapak saya. Akhirnya saya bisa menertawakan ayam tetangga atau alarm di handphone yang saya setting jam 05.00 karena kami bisa lebih dulu bangun dari mereka. Bahkan dengan sengaja saya menghitung mundur alarm saya ketika hendak menunjukan 05.00. Sekarang saya merasa lega karena rezeki saya tidak akan dipatuk oleh si ayam yang biasanya mendahului saya.

Bahkan hanya untuk mengalahkan si ayam, saya harus mengangkat beban yang paling berat di muka bumi ini, selimut di pagi hari! Orang yang paling kuat adalah mereka yang selalu bangun subuh! Pendapatku mengenai orang terhebat.

Tujuan kami pagi itu adalah pasar Andir. Sebuah pasar tradisional yang sudah cukup tua di Kota Bandung. Sempat direnovasi sekitar tahun 2006, sehingga dari segi bangunan pasar ini sudah bisa disebut pasar semi modern. Tetapi dibalik kokohnya bangunan hasil pugaran itu, masih menyimpan sejuta cerita.

Kami biasanya sampai di tujuan sekitar Pukul 05.15. suasana masih remang-remang, dinginnya subuh kota Bandung tidak mempengaruhi mereka yang disibukan dengan transaksi jual-beli. Gerak tubuh mereka menghasilkan suasana yang artsitik, pijar lampu neon yang menggantung menciptakan bayangan silouet sehingga menimbulkan harmoni yang menarik antara suasana, hiruk pikuk serta gerak.

-+-

pasar andirTenda-tenda seadanya yang terbuat dari terpal, lalu disangga dengan beberapa batang bambu sudah cukup bagi mereka untuk menjajakan beragam sayuran dan kebutuhan pokok lainnya. Merahnya cabai akan kontras dengan hijaunya timun, ditempat berlawanan suasana menjadi ironis dengan adanya beberapa potong ayam tergantung selain itu ada juga daging sapi dan kambing. Sebuah ironi terjadi, kesegaran sayuran dan amisnya daging! Semua pemandangan itu hampir memenuhi sepanjang jalan Waringin dan Gardu jati. Beberapa pedagang bahkan hanya menggelar dagangan dengan alas seadanya.

Ditengah aktivitas transaksi dan tawar menawar, saya sempat mencuri dengar tentang perbincangan diantara pedagang, mulai dari heureuy dan saling ejek, kadang-kadang telinga saya menyambar obrolan serius tentang berita terkini, dari harga barang yang mengalami perubahan , issue tentang Politik hingga perkembangan tim PERSIB Bandung yang tidak ada perkembangannya beberapa hari ini.

Saya sempat terlibat langsung dalam pertikaian pemikiran dengan para padagang ini bahkan bukan hanya pedagang sayur dan daging tetapi tukang parker, tukang bubur dan beberapa pelaku aktivitas pasar lainnya.

cing bah, ceuk abah saha anu pas hadi persiden teh?” ujar si akang yang belakangan saya tahu di tukang tahu

ah moal nunjuk jelema abahmah, bisi disangka kampanye!” ujar si abah tukang bubur sambil tangannya yang keriput sibuk menuangkan kecap manis

bae weh atuh bah kampanye oge…” kata si tukang tahu

alah, entong atuh! Engke bisi aya intel…” haha…. Si abah menimpali dengan bercanda

ah geus teu jamana atuh, benre teu jang ?” kata si akang tahu lagi sambil menepuk pundak saya

eh, ari si Jaya (jaya hartono, pelatih persib) jadi pindah teu?” si mang tukang parker turut serta dalam obrolan

dst………………………………………………..

Di sebuah sudut pasar Andir, dengan semangkok bubur di tangan kami asyik ngadu bako (ngobrol/diskusi).

Perbincangan itu menjadi pertunjukan terindah dari pasar andir, sketsa menarik bagiku. Pada moment itu aku menghiraukan bau yang beraneka rupa, seperti layaknya sebuah pasar yang serba ada, berbagai jenis bebauan-pun dapat anda tangkap oleh hidung yang tersumbat sekalipun. mau bau amis? bau busuk sampah sayuran, hingga air lindi di got-got dan pembuangan air lainnya dan beceknya jalanan yang sempit karena sebagian badannya dipakai oleh pera pedagang berjualan.

lalu mengapa mereka begitu menikmati semua suasana itu, bahkan seperti si abah tukang bubur yang sudah 20 tahun berjualan disana? itu semua karena mereka tahu berkat tempat itulah mereka dapat mengalahkan sang ayam dalam berkokok, dan terbebas dari kutukan rezeki yang terpatuk oleh si ayam!

Hingga sekitar SMA St. Maria dan Kbon Jati. Pasar andir sendiri diapit oleh Jl. Waringin dan Jl. Jend. Soedirman. Suasana yang sama terjadi juga di Jl. Jend. Soedirman. Potret pasar andir yang seperti ini terjadi mulai dari menjelang malam hingga menjelang pagi.

Apa yang anda pikirkan tentang theater? Adanya aksi pertunjukan? Latar dan setting panggung yang artistic? Atau drama? Tapi mungkin anda sepakat apabila saya rangkum semua hal tadi dalam istilah “seni”.  Kalau begitu inilah sebuah pertunjukan seni tanpa latihan dan tanpa rekayasa, sebuah kehidupan yang jauh dari kata abstrak, inilah kehidupan nyata dan hebatnya saya ada didalam bagian cerita itu. Latar, adegan, hingga dialog adalah kejujuran.

h1

Pertentangan, Gonzales, Hasil akhir

Januari 31, 2009

Sore yang lenggang, Bandung tampak mendung tanda hujan akan segera menimpa atap orang-orang priangan. Sementara itu jalanan Phh Mustopha cukup disibukan oleh kendaraan yang henti-hentinya berlalu lalang. Ditengah cuaca mendung dan dingin mulai menembus jaket hitamku sebuah kabar membuat saya begitu bersemangat untuk memacu sang kuda besi melewati ramainya jalanan. Beberapa saat yang lalu ketenanganku menunggangi si hitam terganggu oleh sebuah pesan singkat

“geus nyaho can? C.gonzales jadi ka persib.. diinjeumkeun ti persik”

otak saya langsung berputar peosesnya begitu cepat mengalahkan komputer yang memiliki memori tertinggi atau koneksi internet secepat apapun, bahwa yang dimaksud adalah Christian Gonzales pemain sepak bola asal uruguay yang sempat bermain untuk persik kediri selama toga musim dan selalu menjadi topskor. top skor coy!

di tengah perjalanan ada pertentangan dialog di otak saya. pertama pribadi saya yang berharap persib juara yang kedua adalah poertanyaan besar tentang selama ini yang saya cari ada apa dengan di pssi?

halah…. pasti aya nanaon ieyu mah….

keun bae ah, nu penting juara…

tapi era atuh euy lamun aya udang dibalik ba’wan, piraku kang mumuh…..

ah… ulah kitu atuh kang,tong suudzon..

pan apal meureun si gonzales teh di hukum teu meunang maen sa taun? tapi ayeuna tiba-tiba…

eh, etamah pan biasa di pssi mah, plin plan panan….

eta geuning sadar…  tah kuringmah sieun anu nyieun pssi robah pipikiran teh obi-lobi anu teu patut…

ti manajemen?

tah geuning sadar…

ari maneh hayang juara embung…

emang gonzales ngajamin persib juara?

emang henteu oge sih… tapi ni pati nambah kekuatan…

naha kudu gonzales…?

hih ari maneh pan sidik gonzales teh top skor 3 kali pan? bearti kualitasna alus atuh…

di persib bakal tetp alus moalnya?

ah…

sok asa beuki lalieur kieu, pan anu puguhmah urang kudu tetp ngadukung atuh ….

heueuh nya? ngadukung… eta anu ku urang poho… tapi angger weh rada teu gareunah hate kieu…

ah… istigfar weh  lah… tarik nafas…piceun lalunan, tekadkeun dina hate demi persib….

christiangonzalez

Saya mengerti keinginan kuat seorang Mumuh Muhtar dan jajaran manajemen yang merupakan gambaran keinginan bobotoh, yaitu sebuah gelar juara! sesuatu yang sudah lama tak direngkuh lagi.  bahkan entah kekutan dari mana lagi yang membuat kubu maung bandung makin gila melebihi gilanya singo edan. di saat semua tim terpuruk secara finansial dan memaksa harus memutar otak untuk membuat klubnya tetap eksis, tidak halnya dengan persib! Rindu masa kejayaan adalah hal yang membuat orang gila. ya, gila untuk dapat merasakannya kembali.

Kemarin, hari ini, esok apa yang membuatnya berbeda, selain tentunya subjektif kita bagaimana merasa dan berempati terhadap perubahan dan perbedaan yang diakibatkan bergesernya waktu. tetapi sejatinya waktu yang berdetak terus akan membawa kemelut pada penglihatan kita sebagai orang pertama pada kisah kehidupan kita. lalu kalau begitu kenapa kita mempermasalahkan kita mau jadi apa esok hari? misteri! ya, karena semuanya misteri baik itu tentang apa kebenaran dari yang saya tulis serta misteri dari apa yang kita lihat dari tempat yang kita lihat. esok seperti apa rupa kita? itulah yang membuat semuanya memiliki arti. perubahan adalah perihal kenyataan dan kita terlalu bersemangat untuk tahu perubahan apakah yang akan terjadi pada saya.

Apakah saya akan menemukan diri saya terkulai lemas dipinggir jalan, atau sedang beediri di sebuah podium dengan sebuah tropi ditangan saya. saya sayup mendengar ribuan orang bertepuk dan bangga atas apa yang saya pegang atau kenapa saya duduk di sana.

Lalu bagaimana rupa persib di akhir musim apakah gonzales akan memasuk puluhan gol lagi dan membawa persib juara?

+++

Sejenak dikala senggang, setelah melepas helm, lalu menggantungkannya di kaca spion motor, di tengah langkah memasuki bangunan megah tempat dimana aku biasa beraktifitas aku merasakan kegalauan tentang apa yang aku yakini. Apakah langkah dan pemikiranku tentang sesuatu hal sudah benar? behkan itu perihal cita-citaku sendiri, harapanku, impianku. Semuanya abstrak. Bangunan megah yang tadi aku sempat pandangi masih memberikan ketidak padtian apakah aku akan hebat di sini, di rumah ke dua yang bernama kampus? inilah misteri masa depanku.***