h1

JANGAN TAKUT PADA ANARKISME

Januari 18, 2010

“Aturan, infrastruktur dan disiplin adalah kata kunci untuk mewujudkan stadion yang aman, nyaman, dan bebas dari anarkisme tetapi tetap “bergairah”dan “hidup”. Melarang sebuah pertandingan berlangsung, atau melarang penonton hadir karena alasan dapat menimbulkan kerusuhan adalah hal yang konyol. Itu sama saja dengan membunuh anarkisme sekaligus dengan sepak bola itu sendiri.”

hooligan

Anarkisme, kata ini seakan menjadi momok bagi kita. Secara bahasa anarki (anarchy) berarti suatu tindakan melanggar aturan. Tetapi persepsi masyarakat menganggap bahwa anarki sebagai tindakan merusak. Ketika mendengar kata ini maka pikiran kita akan membayangkan suatu kondisi yang kacau, chaos, kehancuran, kerusakan, korban jiwa dan hal lainnya yang membuat orang berusaha menghindarinya.

Di Eropa dan Amerika anarchy menjadi suatu gerakan social perlawanan terhadap pemerintah, dengan cara melakukan pelanggaran terhadap aturan yang dibuat oleh pemerintah, maupun aturan norma sosial. Kelompok-kelompok yang melakukan perlawanan ini biasanya membenci keteraturan dan umumnya berpikir serta berprilaku diluar kendali, mereka juga membenci pengkelasan dalam social. Karena itulah mereka cenderung seperti “menyukai” kekacauan.
Gerakan-gerakan ini meluas ke berbagai aspek kehidupan, bukan hanya sudut-sudut jalan, gang-gang sempit dan bar, tetapi termasuk juga di stadion, di sepak bola! Bebarapa diantara mereka merupakan supporter dari klub local. Di inggris, keberadaan mereka selalu mewarnai sudut-sudut tribun stadion. Mereka umumnya datang bergerombol, membuat gaduh, dan mabuk. Mereka lebih peduli terhadap kegaduhan dari pada pertandingannya sendiri. Mereka mencintai klub yang mereka dukung, tetapi lebih peduli lagi berkelahi dengan suporter lawan. Mereka lalu disebut sebagai hooligans.
Karena hooliganisme, sepak bola inggris berada dalam dunia kelam hingga akhir 90-an. Sebelumnya, wajah sepakbola negeri Ratu Elizabeth ini tidak lepas dari kerusuhan dan korban jiwa. Puncaknya adalah, mungkin anda masih ingat, ketika final liga champions tahun 1985 antara Juventus melawan klub dari Inggris Liverpool. Pada pertandingan yang berlangsung di heysel, Belgia itu berakhir dengan kerusuhan besar yang mengakibatkan 39 orang meninggal dunia, yang sebagian besar adalah supporter Juventus. Atas kejadian tersebut maka semua tim sepak bola asal inggris dilarang bermain di Eropa selama 5 tahun oleh UEFA.

Sejak saat itu FA, asosiasi sepakbola di inggris, dan masyarakat sepak bola di Inggris bertekad untuk melawan anarkisme dan hooliganisme. Reformasi dilakukan dengan cara Liga di format ulang, menjadi format Premiere League seperti yang kita kenal sekarang. Memperketat standar pelaksanaan petandingan, stadion di beberapa sudutnya dipasangi CCTV, sehingga tak ada satu sudut tribunpun yang lepas dari pantauan. Revolusi yang paling fenomenal adalah menghilangkan pagar di pinggir tribun yang membatasi antara penonton dan lapangan. Pengamanan superketat diberlakukan disekitar, didalam stadion dan di dalam tribun, jangan harap ada penonton masuk dalam keadaan mabuk, atau membawa air mineral dalam botol dan petasan seperti di liga indonesia.

Beberapa klub juga mulai “menyeleksi” penonton yang datang ke stadion melalui harga tiket yang di naikan, sehingga para hooligans yang datang ke stadion jumlahnya berkurang, karena umumnya kaum hooligans ini berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah, selain itu tentu saja pemasukan meningkat. Sejak saat itu, premiere league menjadi menarik, kompetitif dan relative aman, sehingga sepakbola yang menghibur lebih menonjol. Karena inilah dari segi industry liga inggris berkembang pesat dibandingkan dengan liga-liga lainnya di eropa.

Apabila berkaca kepada kisah hooliganisme di inggris, maka bukan tidak mungkin Sepak bola Indonesia juga dapat terbebas dari anarkisme. Kuncinya adalah mau berubah dan berani menegakan aturan. Kompromi terhadap aturan adalah kecelakaan. Panjangnya daftar kasus kerusuhan, perkelahian hingga beujung kematian dan perusakan oleh supporter sepak bola di tanah air telah menimbulkan trauma bagi banyak pihak. Sudah seringkali sebuah klub dihukum gara-gara ulah suporternya. Tetapi sepertinya tak ada kata jera bagi anarkisme.

Lalu bagaimana menghentikan anarkisme? Aturan, infrastruktur dan disiplin adalah kata kunci untuk mewujudkan stadion yang aman, nyaman, dan bebas dari anarkisme tetapi tetap “bergairah”dan “hidup”. Melarang sebuah pertandingan berlangsung, atau melarang penonton hadir karena alasan dapat menimbulkan kerusuhan adalah hal yang konyol. Itu sama saja dengan membunuh anarkisme sekaligus dengan sepak bola itu sendiri.

Bagi sepak bola industry, pertandingan-pertandingan besar dan prestisius seperti derby, final dan pertandingan klasic, tentu saja menjadi momentum penting bagi bisnis, selain pendapatan dari penonton akan meningkat, ketertarikan sponsor juga akan lebih besar, rating televisi akan naik, maka berimbas pada iklan. Oleh karenanya keberadaan penonton merupaan bagian dari sisi bisnis yang penting juga hiburan dan daya tarik tersendiri dalam sepak bola modern, sepak bola yang menjadi industry! Apabila sepakbola tanpa supporter maka sepak bola sebagai industry tidak akan terwujud.

Memang, pertandingan penting memiliki risiko terjadinya gesekan antar supporter. Tetapi tentu saja yang namanya risiko itu dapat diminimalisir. Saya pikir hampir di setiap pertandingan besar dan prestisius di dunia ini memliki potensi kerusuhan yang besar. Tetapi apa yang dilakukan liga-liga mapan di eropa dengan tetap menjalankan pertandingan patut dicontoh. Yang meraka lakukan hanyalah me-manage pertandingan supaya berjalan lancar. Hal yang juga sangat bisa dilakukan di Indonesia sebetulnya.

Sepakbola memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Fenomena yang terjadi di luar stadion dapat berdampak ke dalam stadion begitu juga sebaliknya. Permasalahan dan fenomena masyarakat di dalam stadion akan mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku masyarakat ketika di luar stadion, misalnya permusushan dengan supporter lainnya, akan berimbas pada hubungan masyarakat dari tempat supporter itu berasal. Hal ini dikarenakan manusia memiliki identitas yang plural, di satu sisi dia adalah seorang supporter tetapi di sisi lain sebagai warga masyarakat.

Pada akhirnya, menganggap supporter sebagai manusia biasa, yang memiliki potensi sama, potensi untuk berbuat rusuh ataupun tertib. Potensi itu bisa diredam ataupun dikembangkan. Menghindari anarkisme dengan melarang sebuah pertandingan sama halnya dengan kita lari dari anarkisme. Sudah cukup kita dirugikan oleh anarkisme, sekarang saatnya kita menyerang balik, jangan takut!
****

h1

Kau Cinta Pertama dan Terakhirku

Oktober 13, 2009

Engga tau ada apa dengan lagu ini, tetapi mendengarnya seperti meretas sebuah jalan bernama waktu lalu menyambungkannya dengan elemen hati.

Sherina Munaf

h1

Gadis di Pagi Hari

Juli 14, 2009

Tak ada hal yang lebih menyegarkan, selain melihat anak perempuan berangkat ke sekolah.

Seperti pagi ini, Senin 13 Juli ‘09, seorang gadis berseragam biru-putih berdiri di tepi jalan, dibelakangnya para pedagang pasar tumpah sibuk dengan aktivitas bisnisnya. Dengan rambut terikat satu kebelakang, dengan pita nerah jambu persis seperti ekor kuda, lebih manis ketika dikengkapi seragam yang dimasukan ke dalam rok, sehingga ikat pinggang warna merah jambunya tidak tertutupi. Kaus kaki panjangnya yang menutupi betis menjadi pembeda waktu generasi ku dengannya. Beberapa saat kemudian seorang gadis lainnya menghampirinya. Adegan itu terjadi pada pukul 05.48 menurut jam di Handphoneku.

Segelas kopi yang sudah tidak panas lagi masih menjadi kawan setia dalam menikmati pagi ini. Cahaya pagi itu belum begitu terang, matahari masih malu untuk secara jelas menghadapi dingin dan memudarkan gelap. Bu Rini, sang penjual kopi yang kuminum, masih sibuk dengan persiapan pulang kerumahnya. Maklum, tempatnya berjualan  merupakan  halaman dari sebuah toko, sebentar lagi sang pemilik toko akan memulai kegiatannya, itu tandanya Bu Rini harus membersihkan halaman  milik si Tuan Toko yang dia pakai. Semalaman dia menemani para pedagang sayuran, buah-buahan dan pedagang lainnya menjual dagangannya. 8 tahun bersama dingin mengarungi malam menjadi pahlawan bagi mereka yang membutuhkan kehangatan dengan secangkir kopi, bandrek ataupun beberapoa buah gorengan.

Aroma kopi semakin menguatkan lamunan panjangku akan wanita tercantik. bukan tentang hasrat kepada gadis berkacamata yang ada ditempat lain, tetapi ini tentang perasaan kagum kepada dua orang gadis yang duduk diseberang mataku. Sejenak aku menganggap tak berarti beberapa wajah yang terpampang di majalah-majalah atau yang melintasi mataku di layar kaca setiap hari. Kosmetik tidak membantuku menilai mereka lebih baik dari dua dewi dihadapnku ini. Mereka  tak ber-lipstik tetapi senyumnya memberikan gairah dan semangat cita-cita. tak ada polesan make-up, selain polesan bedak yang begitu sederhana tetapi rona wajahnya jauh lebih bersih, sebersih tujuan mulia mereka bersama buku-buku ditangan.

Mereka menjadi sedikit dari gadis seusia mereka yang mempertahankan “originalitas” seorang wanita. Teman-teman sebayanya sudah banyak yang terjebak oleh iklan di televisi dan gaya hidup.

h1

Doa dari Bintang Jatuh

Juli 7, 2009

kang asep percanten kana mitos bentang jatuh?” tanya kawan perjalananku

perkawis permohonan anu dikabul? aku balik bertanya

muhun!ujarnya

percaya ga percaya!

bade nyobian?

hayu atuh!

kang asep ngadu’a naon?”

“mugi-mugi enjing langkung sae…”

ah, standar…

“semoga enjing sareng saterasna abdi, saderek sareng kulawargi aya dina kawilujengan…”

“aminn..!”

“ari akang ngadu’a naon?” tanyaku

“mugi-mugi kulawarga abdi, rerencengan sadaya sing di sehatkeun, saterasna, aranjeuna  aya dina kasalametan, kabagjaan….  jeung saterusna….”

kurang lebih itulah penggalan obrolanku dengan seorang kawan disuatu tempat yang sepi, begitu sepi meski kami tidak berdua. Obrolan tentang harapan tentang semua sahabat, dan orang yang hidup disekitar kami terutama kedua orang tuaku.  Inilah oleh-oleh yang aku bawa buat ibuku, dari liburan semalamku di Ciwidey. Sorry karena manisan yang dipesan tak terbeli…. hehe…

ditengah suara aliran sungai, dan sapaan embun yang memluk seluruh tubuh dan ruang antara kami dan segala benda di Situ Cangkuang……

Ciwidey, 27 Juni 2005

h1

Latar di Pasar Andir

Juli 7, 2009

SUBUH-FOTO ANTARA-Agus Bebeng-Koz-hp-07.Meluncur ditengah udara pagi kota bandung yang dingin, beberapa hari ini menjadi kegiatan rutin saya bersama Bapak saya. Akhirnya saya bisa menertawakan ayam tetangga atau alarm di handphone yang saya setting jam 05.00 karena kami bisa lebih dulu bangun dari mereka. Bahkan dengan sengaja saya menghitung mundur alarm saya ketika hendak menunjukan 05.00. Sekarang saya merasa lega karena rezeki saya tidak akan dipatuk oleh si ayam yang biasanya mendahului saya.

Bahkan hanya untuk mengalahkan si ayam, saya harus mengangkat beban yang paling berat di muka bumi ini, selimut di pagi hari! Orang yang paling kuat adalah mereka yang selalu bangun subuh! Pendapatku mengenai orang terhebat.

Tujuan kami pagi itu adalah pasar Andir. Sebuah pasar tradisional yang sudah cukup tua di Kota Bandung. Sempat direnovasi sekitar tahun 2006, sehingga dari segi bangunan pasar ini sudah bisa disebut pasar semi modern. Tetapi dibalik kokohnya bangunan hasil pugaran itu, masih menyimpan sejuta cerita.

Kami biasanya sampai di tujuan sekitar Pukul 05.15. suasana masih remang-remang, dinginnya subuh kota Bandung tidak mempengaruhi mereka yang disibukan dengan transaksi jual-beli. Gerak tubuh mereka menghasilkan suasana yang artsitik, pijar lampu neon yang menggantung menciptakan bayangan silouet sehingga menimbulkan harmoni yang menarik antara suasana, hiruk pikuk serta gerak.

-+-

pasar andirTenda-tenda seadanya yang terbuat dari terpal, lalu disangga dengan beberapa batang bambu sudah cukup bagi mereka untuk menjajakan beragam sayuran dan kebutuhan pokok lainnya. Merahnya cabai akan kontras dengan hijaunya timun, ditempat berlawanan suasana menjadi ironis dengan adanya beberapa potong ayam tergantung selain itu ada juga daging sapi dan kambing. Sebuah ironi terjadi, kesegaran sayuran dan amisnya daging! Semua pemandangan itu hampir memenuhi sepanjang jalan Waringin dan Gardu jati. Beberapa pedagang bahkan hanya menggelar dagangan dengan alas seadanya.

Ditengah aktivitas transaksi dan tawar menawar, saya sempat mencuri dengar tentang perbincangan diantara pedagang, mulai dari heureuy dan saling ejek, kadang-kadang telinga saya menyambar obrolan serius tentang berita terkini, dari harga barang yang mengalami perubahan , issue tentang Politik hingga perkembangan tim PERSIB Bandung yang tidak ada perkembangannya beberapa hari ini.

Saya sempat terlibat langsung dalam pertikaian pemikiran dengan para padagang ini bahkan bukan hanya pedagang sayur dan daging tetapi tukang parker, tukang bubur dan beberapa pelaku aktivitas pasar lainnya.

cing bah, ceuk abah saha anu pas hadi persiden teh?” ujar si akang yang belakangan saya tahu di tukang tahu

ah moal nunjuk jelema abahmah, bisi disangka kampanye!” ujar si abah tukang bubur sambil tangannya yang keriput sibuk menuangkan kecap manis

bae weh atuh bah kampanye oge…” kata si tukang tahu

alah, entong atuh! Engke bisi aya intel…” haha…. Si abah menimpali dengan bercanda

ah geus teu jamana atuh, benre teu jang ?” kata si akang tahu lagi sambil menepuk pundak saya

eh, ari si Jaya (jaya hartono, pelatih persib) jadi pindah teu?” si mang tukang parker turut serta dalam obrolan

dst………………………………………………..

Di sebuah sudut pasar Andir, dengan semangkok bubur di tangan kami asyik ngadu bako (ngobrol/diskusi).

Perbincangan itu menjadi pertunjukan terindah dari pasar andir, sketsa menarik bagiku. Pada moment itu aku menghiraukan bau yang beraneka rupa, seperti layaknya sebuah pasar yang serba ada, berbagai jenis bebauan-pun dapat anda tangkap oleh hidung yang tersumbat sekalipun. mau bau amis? bau busuk sampah sayuran, hingga air lindi di got-got dan pembuangan air lainnya dan beceknya jalanan yang sempit karena sebagian badannya dipakai oleh pera pedagang berjualan.

lalu mengapa mereka begitu menikmati semua suasana itu, bahkan seperti si abah tukang bubur yang sudah 20 tahun berjualan disana? itu semua karena mereka tahu berkat tempat itulah mereka dapat mengalahkan sang ayam dalam berkokok, dan terbebas dari kutukan rezeki yang terpatuk oleh si ayam!

Hingga sekitar SMA St. Maria dan Kbon Jati. Pasar andir sendiri diapit oleh Jl. Waringin dan Jl. Jend. Soedirman. Suasana yang sama terjadi juga di Jl. Jend. Soedirman. Potret pasar andir yang seperti ini terjadi mulai dari menjelang malam hingga menjelang pagi.

Apa yang anda pikirkan tentang theater? Adanya aksi pertunjukan? Latar dan setting panggung yang artistic? Atau drama? Tapi mungkin anda sepakat apabila saya rangkum semua hal tadi dalam istilah “seni”.  Kalau begitu inilah sebuah pertunjukan seni tanpa latihan dan tanpa rekayasa, sebuah kehidupan yang jauh dari kata abstrak, inilah kehidupan nyata dan hebatnya saya ada didalam bagian cerita itu. Latar, adegan, hingga dialog adalah kejujuran.