“Aturan, infrastruktur dan disiplin adalah kata kunci untuk mewujudkan stadion yang aman, nyaman, dan bebas dari anarkisme tetapi tetap “bergairah”dan “hidup”. Melarang sebuah pertandingan berlangsung, atau melarang penonton hadir karena alasan dapat menimbulkan kerusuhan adalah hal yang konyol. Itu sama saja dengan membunuh anarkisme sekaligus dengan sepak bola itu sendiri.”
Anarkisme, kata ini seakan menjadi momok bagi kita. Secara bahasa anarki (anarchy) berarti suatu tindakan melanggar aturan. Tetapi persepsi masyarakat menganggap bahwa anarki sebagai tindakan merusak. Ketika mendengar kata ini maka pikiran kita akan membayangkan suatu kondisi yang kacau, chaos, kehancuran, kerusakan, korban jiwa dan hal lainnya yang membuat orang berusaha menghindarinya.
Di Eropa dan Amerika anarchy menjadi suatu gerakan social perlawanan terhadap pemerintah, dengan cara melakukan pelanggaran terhadap aturan yang dibuat oleh pemerintah, maupun aturan norma sosial. Kelompok-kelompok yang melakukan perlawanan ini biasanya membenci keteraturan dan umumnya berpikir serta berprilaku diluar kendali, mereka juga membenci pengkelasan dalam social. Karena itulah mereka cenderung seperti “menyukai” kekacauan.
Gerakan-gerakan ini meluas ke berbagai aspek kehidupan, bukan hanya sudut-sudut jalan, gang-gang sempit dan bar, tetapi termasuk juga di stadion, di sepak bola! Bebarapa diantara mereka merupakan supporter dari klub local. Di inggris, keberadaan mereka selalu mewarnai sudut-sudut tribun stadion. Mereka umumnya datang bergerombol, membuat gaduh, dan mabuk. Mereka lebih peduli terhadap kegaduhan dari pada pertandingannya sendiri. Mereka mencintai klub yang mereka dukung, tetapi lebih peduli lagi berkelahi dengan suporter lawan. Mereka lalu disebut sebagai hooligans.
Karena hooliganisme, sepak bola inggris berada dalam dunia kelam hingga akhir 90-an. Sebelumnya, wajah sepakbola negeri Ratu Elizabeth ini tidak lepas dari kerusuhan dan korban jiwa. Puncaknya adalah, mungkin anda masih ingat, ketika final liga champions tahun 1985 antara Juventus melawan klub dari Inggris Liverpool. Pada pertandingan yang berlangsung di heysel, Belgia itu berakhir dengan kerusuhan besar yang mengakibatkan 39 orang meninggal dunia, yang sebagian besar adalah supporter Juventus. Atas kejadian tersebut maka semua tim sepak bola asal inggris dilarang bermain di Eropa selama 5 tahun oleh UEFA.
Sejak saat itu FA, asosiasi sepakbola di inggris, dan masyarakat sepak bola di Inggris bertekad untuk melawan anarkisme dan hooliganisme. Reformasi dilakukan dengan cara Liga di format ulang, menjadi format Premiere League seperti yang kita kenal sekarang. Memperketat standar pelaksanaan petandingan, stadion di beberapa sudutnya dipasangi CCTV, sehingga tak ada satu sudut tribunpun yang lepas dari pantauan. Revolusi yang paling fenomenal adalah menghilangkan pagar di pinggir tribun yang membatasi antara penonton dan lapangan. Pengamanan superketat diberlakukan disekitar, didalam stadion dan di dalam tribun, jangan harap ada penonton masuk dalam keadaan mabuk, atau membawa air mineral dalam botol dan petasan seperti di liga indonesia.
Beberapa klub juga mulai “menyeleksi” penonton yang datang ke stadion melalui harga tiket yang di naikan, sehingga para hooligans yang datang ke stadion jumlahnya berkurang, karena umumnya kaum hooligans ini berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah, selain itu tentu saja pemasukan meningkat. Sejak saat itu, premiere league menjadi menarik, kompetitif dan relative aman, sehingga sepakbola yang menghibur lebih menonjol. Karena inilah dari segi industry liga inggris berkembang pesat dibandingkan dengan liga-liga lainnya di eropa.
Apabila berkaca kepada kisah hooliganisme di inggris, maka bukan tidak mungkin Sepak bola Indonesia juga dapat terbebas dari anarkisme. Kuncinya adalah mau berubah dan berani menegakan aturan. Kompromi terhadap aturan adalah kecelakaan. Panjangnya daftar kasus kerusuhan, perkelahian hingga beujung kematian dan perusakan oleh supporter sepak bola di tanah air telah menimbulkan trauma bagi banyak pihak. Sudah seringkali sebuah klub dihukum gara-gara ulah suporternya. Tetapi sepertinya tak ada kata jera bagi anarkisme.
Lalu bagaimana menghentikan anarkisme? Aturan, infrastruktur dan disiplin adalah kata kunci untuk mewujudkan stadion yang aman, nyaman, dan bebas dari anarkisme tetapi tetap “bergairah”dan “hidup”. Melarang sebuah pertandingan berlangsung, atau melarang penonton hadir karena alasan dapat menimbulkan kerusuhan adalah hal yang konyol. Itu sama saja dengan membunuh anarkisme sekaligus dengan sepak bola itu sendiri.
Bagi sepak bola industry, pertandingan-pertandingan besar dan prestisius seperti derby, final dan pertandingan klasic, tentu saja menjadi momentum penting bagi bisnis, selain pendapatan dari penonton akan meningkat, ketertarikan sponsor juga akan lebih besar, rating televisi akan naik, maka berimbas pada iklan. Oleh karenanya keberadaan penonton merupaan bagian dari sisi bisnis yang penting juga hiburan dan daya tarik tersendiri dalam sepak bola modern, sepak bola yang menjadi industry! Apabila sepakbola tanpa supporter maka sepak bola sebagai industry tidak akan terwujud.
Memang, pertandingan penting memiliki risiko terjadinya gesekan antar supporter. Tetapi tentu saja yang namanya risiko itu dapat diminimalisir. Saya pikir hampir di setiap pertandingan besar dan prestisius di dunia ini memliki potensi kerusuhan yang besar. Tetapi apa yang dilakukan liga-liga mapan di eropa dengan tetap menjalankan pertandingan patut dicontoh. Yang meraka lakukan hanyalah me-manage pertandingan supaya berjalan lancar. Hal yang juga sangat bisa dilakukan di Indonesia sebetulnya.
Sepakbola memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Fenomena yang terjadi di luar stadion dapat berdampak ke dalam stadion begitu juga sebaliknya. Permasalahan dan fenomena masyarakat di dalam stadion akan mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku masyarakat ketika di luar stadion, misalnya permusushan dengan supporter lainnya, akan berimbas pada hubungan masyarakat dari tempat supporter itu berasal. Hal ini dikarenakan manusia memiliki identitas yang plural, di satu sisi dia adalah seorang supporter tetapi di sisi lain sebagai warga masyarakat.
Pada akhirnya, menganggap supporter sebagai manusia biasa, yang memiliki potensi sama, potensi untuk berbuat rusuh ataupun tertib. Potensi itu bisa diredam ataupun dikembangkan. Menghindari anarkisme dengan melarang sebuah pertandingan sama halnya dengan kita lari dari anarkisme. Sudah cukup kita dirugikan oleh anarkisme, sekarang saatnya kita menyerang balik, jangan takut!
****


Meluncur ditengah udara pagi kota bandung yang dingin, beberapa hari ini menjadi kegiatan rutin saya bersama Bapak saya. Akhirnya saya bisa menertawakan ayam tetangga atau alarm di handphone yang saya setting jam 05.00 karena kami bisa lebih dulu bangun dari mereka. Bahkan dengan sengaja saya menghitung mundur alarm saya ketika hendak menunjukan 05.00. Sekarang saya merasa lega karena rezeki saya tidak akan dipatuk oleh si ayam yang biasanya mendahului saya.
Tenda-tenda seadanya yang terbuat dari terpal, lalu disangga dengan beberapa batang bambu sudah cukup bagi mereka untuk menjajakan beragam sayuran dan kebutuhan pokok lainnya. Merahnya cabai akan kontras dengan hijaunya timun, ditempat berlawanan suasana menjadi ironis dengan adanya beberapa potong ayam tergantung selain itu ada juga daging sapi dan kambing. Sebuah ironi terjadi, kesegaran sayuran dan amisnya daging! Semua pemandangan itu hampir memenuhi sepanjang jalan Waringin dan Gardu jati. Beberapa pedagang bahkan hanya menggelar dagangan dengan alas seadanya.