HATI: Hitler Angkatan Tiga Belas
“Apalah artinya sebuah nama” Kata Wiliam shakespher
Kalau memang nama begitu tidak berarti, “maukah kau aku panggil Anjing?”
Siang itu cukup panas, ditengah kesibukan kuliah, waktu jeda memang tidak boleh disia-siakan. Sebuah ruangan yang letaknya persis di samping ruang F.108 menjadi tempat yang tepat untuk membicarakan rencana gelap. Ya, rencana gelap, meskipun hari masih siang.
Diruangan yang juga tetanggan dengan WC itulah kami berbisik2 satusama lain merencanakan sebuah aksi yang tidak boleh ketahuan oleh siapapun selain kami. Hanya kami ber 11 dan seekor kucing yang asyik dengan tulang ayam.
“Lalu apa namanya…?” tanya saya dengan muka serius sambil celingukan takut ada yang menguping dari balik tembok.
“Ingat anak-anak yang diruangan F.108 jangan sampai tau!” ujarku..
“Karung aja!” jawab si iqbal asal ngomong
“lu pikir kita ini kucing?” timpal si Anit
meongg… tiba-tiba kucing yang lagi asyik dengan tulang ayam itu ikut nimbrung.
“Tuh kan.. kucing aja keberatan!” timpal manikam.
“Jadi apa dong?” desaku
“Alah.. susah amat.. patromak aja” usul Kiki.
“Kenapa ga sekalian lilin aja?” timpal saya.
“Kenapa harus patromak coba? what the philosofi” lanjut saya sok ingris, biar jadi obrolan yang berbobot.
“Patromak itu pemberi terang, pers itu harus menerangi yang belum tau” jelas Kiki, dengan semangat idealisnya.
Gadis berkerudung dan berkacamata ini memang selalu bersemangat dan serius. Pakaiannya yang berjilbab, serta insting kritisnya membuat saya mensejajarkan dia dengan mereka yang sering mendemo AS dan mendukung Palestina.
“Aduh kiki, Itu tugasnnya PLN” celoteh iqbal kembali tidak penting dan asal ngomong. Sambil tangannya asyik menggambar pohon nangka yang ada dibelakang ruangan F.108.
“Yang kerenan dikit dong… kamen rider aja” si Dika penuh semangat. Sepertinya dia optimis idenya akan diterima.
“Plis deh..” kami serempak menjawab seketika
Yang pasti diskusi kami tentang nama angkatan ini berlangsung begitu ketat dan mendebarkan. M-masing kubu saling menyerang, tak mau kalah. Nama angkatan sangatlah penting. Bahkan lebih penting dari keberadaan kami sekalipun. Nama yang bagus menentukan pandangan orang tentang kami. Kata-kata itu aku kutip dari kata pengantar buku primbon jawa tentang nama-nama yang baik.
Ditengah-tengah perdebataan itu, seseorang dari balik celah sempit, tempat keluar masuknya kami, muncul suara yang tidak pernah diduga. Dengan rambut pendek rapi, gaya rambutnya mirip tokoh kartun tin-tin. Orang bilang seperti dede Yusuf, tetapi menurutku sih kaya Surya saputra di film Arisan. Bukan cerita melankolis yang dia sampaikan, atau sebuah aksi monolog yang dibumbui kata-kata romantis. Tetapi pepatah bijak tentang memilih nama. Aku berpikir mungkin dia baru membaca prambon jawa tentang nama-nama bagus buat anak laki-laki.
“Yang pasti” Dia mulai bicara “Nama angkatan kalian ini harus memiliki philosofi yang mendalam, biar nanti pas dibacakan proklamasinya terdengar keren dan orang terkagum-kagum. Dan kamu Vivi”
Si Vivi yang sedang asyik makan batagor menoleh ke arah sumber suara, dengan batagor yang masih dimulut.
“Batagornya masih ada kak! Kakak mau?” ujar si Vivi.
“Bukan batagor!” lanjut pria mirip Surya Saputra tadi
“Sebagai danru, apa pendapatmu tentang nama angkatan?” dia bertanya layaknya seorang atasan meminta tanggung jawab satpam yang lalai bertugas.
“Saya justru mau nanya kenapa foto saya jadi jelek?” Jawab Si Vivi dengan polos. Sambil telunjuk kirinya mengarah ke sebuah gambar di ID card yang tergantung dilehernya. Pria dengan kumis irit di atas bibirnya, berambut cepak dan memakai pakaian mirip tentara. Dilengan kirinya melingkar sebuah pita berwarna merah dengan gambar swastika ditengahnya.
“APa? Kenapa gambar si Hitler ada di ID kamu? Seharusnya itu buat ID saya!” ujar pria berkacamata itu.
“ya sudah, saya mau komplain dulu, kalian teruskan rapatnya! Pria itu pergi, sepertinya mengarah ke Ruang F. 108.
Selepas keluarnya orang misteruis itu, rapat kembali cair. Penentuan nama berjalan serius kambali. Ini baru nama, kami belum menentukan Undang-undang dan manifesto politik, apalagi membentuk kabinet.
“Hitler, kenapa sih foto ID ku hitler?” tanya Vivi kepada kami. Masih dengan muka yang polos.
**gubrak**
Tak ada yang mejawab, kami bingung siapa sosok berambut cepak dengan kumis yang irit ditengah itu. Yang pasti dia bukan kapten kesebelasan sepak bola, karena dilengan kririnya ada kain berwarna merah melingkar. Kami juga bingung siapa pria yang sok menasehati kami itu. Sesaaat kami semua termenung, dan Vivi melanjutkan makan batagor, menemani kucing hitam yang asik dengan tulangnya.
“Mungkin hitler itu petunjuk buat kita!” tiba-tiba seseorang memecah keheningan. Ternyata yang berbicara itu kawan kami yang jarang sekali bicara, dan biasanya kalo bicara selalu ngawur. Kami melihat sosok yang masih asyik dengan pensil dan kertas putih. Matanya sesekali melirik pohon nangka yang baru berbuah 1 buah.
“Tumben lu cerdas, bal..!” ujar saya
“HItler itu pendapat yang bagus, cocok sekali untuk nama angkatan kita yang sok serius, seperti gambar di ID nya si Vivi” lanjuta saya.
“Penuh misterius, tetapi membuat orang bingung. Coba saja bayangkan, wajahnya yang tanpa ekspresi tetapi potongan rambutnya dan kumisnya yang mirip Charlie Chaplin itu! membuat orang bingung, dia itu pelawak atau diktator” panjang lebar saya bicara.
“Iya kita pakai nama hitler sebagai angkatan kita” Si kiki juga bersemangat.
“Setuju, dia itu tokoh inspirasi buat hidup disiplin” anita menambahkan
“Hitler juga orang yang tegas, tapi cara berpikir dia sangat komperhensif integral” Manikam memperbuas lagi. kata-kata terakhir manikam ini memang menjadi alasan kuat. Komperhensif Integral ya kita harus menjadi angkatan yang berpikir secara komperhensif integral, seperti Kata manikam, gumam saya!
“Mantaf! Hitler itu seperti chester, suaranya lantang kalo ngomong, dan mirip raper.. cepet! ga kalah deh sama bang Rhoma” Dika semakin liar mengeksplorasi Hitler.
“Oke mulai sekarang nama angkatan kita Hitler angkatan tiga belas, yang disingkat HATI!” pungkas anita.
“Kenapa ada tiga belas segala?” kiki menimpali dengan kritis.
“Bukan, bukan karena tiga belas itu angka sial, aku ga mau sial, tapi kata mereka yang sekarang lagi di Ruang F.108 kita ini angkatan ke tigabelas” Panjang lebar Anita menjelaskan.
“Oke aku setuju” jawab Kiki yang diamini oleh semua.
“Amiin….”
Arini, Filma, Ardhi dan Shanti turut mengamini rapat Persiapan pembacaan proklamasih angkatan HATI.
“Lalu siapa komandan kita?” tanya manikam.
“sudah.. sudah.. kita lanjut rapatnya besok aja…” pungkas si Dika.
“iya, sekalian besok kita buat pemilu HATI” jawab saya
Sore telah tiba mengantarkan perbincangan kami kepada sebuah sosok misterius nan menggoda untuk diperdebatkan. Menyematkannya menjadi bagian dari nama kami. “Hitler.. kenapa musti hitler? kenapa ga gambar Rhoma Irama yang di pasang ID si Vivi ya? atau kenapa ga’ rektor kami aja?” tanya saya dalam hati. Sebuah pertanyaan yang setelah 5 tahun berlalu belum ada jawabannya.
Berbagai teori konspirasi telah saya telaah mengapa panitia menggunakan gambar itu. Muatan politis apa? targetannya apa? apakah salah satu panitia ada yang naksir sama hitler? atau ada yanng jadi Fansnya Charlie Chaplin? hm…
Satu persatu penghuni ruangan sempit itu berkurang. Goresan terakhir dari lukisan si Iqbal tentang pohon nangka sudah digoreskan. Piring sisa batagor dan seekor kucing yang sekarang terlelap tidur disampingnya, menjadi pemandangan ruangan yang kini kosong. ditinggal orang-orang gila akan nama dan haus akan gelar keren. Tetapi kami memang keren hehe…
Angin sore bulan januari, menemaniku melepaskan sore dengan canda dan riang yang penuh kegilaan. Obrolan tanpa batas mejadi aktivitas menunggu malam, ditemani secangkir teh dari seduhan dispenser tua berwarna biru…. Sore itu.. akan selalu jadi bagian dari sebuah nama. Selamat tahun baru 2006 ujarku dalam hati…





Komentar Terakhir