Legalitas dalam Opini
Yang penting buatku adalah kami menang atas lawan-lawan yang sedang dihadapi. Gembira ketika Airlangga atau Aliyuddin mencetak gol ke gawang Markus (PSMS Medan) misalnya.
Bila sebuah pergantian hanya untuk menumbangkan sebuah Rezim, maka selamanya tidak akan ada perubahan yang lebih baik yang dihasilkan dengan niat mengganti orang. Ketika Era Nurdin Halid digantikan oleh era Johar Arifin, yang terjadi kemudian adalah rasa sakit hati, dan aroma balas dendam.
Bangsa ini nampaknya tidak pernah belajar dari sejarah. hal yang sama terjadi dalam perjalanan politik di negara dengan jumlah penduduk ke lima tiga di dunia ini. Tumbang menumbang Rezim selalu berulang, balas dendam diantaranya kerap mewarnai.
Di Liga kita, ketika ada klub yang tidak setuju, maka cap ilegal tak segan-segan dijatuhkan. Begitupun ketika tidak mau mengikuti kompetisi yang dia buat.
Hal yang tidak pernah tuntas dari sebuah perubahan adalah, tidak adanya sebuah strategi keberlanjuutan yang bisa terselesaikan, selalu terputus ditengah jalan, bersama pergantian itu. Begitupun dengan perubahan di tubuh organisasi sepak bola kita. Karena agenda yang utama, yaitu perbaikan dan mewujudkan mimpi menjadi juara dunia tidak pernah tercapai.
Namun, buatku, masa bodoh dengan semua kepentingan elit-elit di senayan itu. Bagiku, sepak bola hanya hhidup dirumahnya yaitu stadion. Seperti layaknya agama, tempat sakral bagi sepak bola hanyalah di tribun dan lapangan hijau.
Bagi seorang suporter, berada didalam tribun stadion baik itu duduk atau berdiri, menyaksikan semangat pemain memburu sebuah bola, lalu dijaringkan ke dalam gawang lawan, adalah hal yang lebih menakjubkan.
Bagiku khususnya, menikmati adrenalin dari kemenangan dan kekaalahan jauh lebih penting, daripada hasil akhir sekalipun. Itulah sebabnya, penyesalan selalu hadir meskipun Persib Bandung menang tanpa keberadaanku disana. Tidak peduli di liga mana PERSIB bertanding.
Begitupun saat ini, aku lupa dimana PERSIB bermain, di liga mana dia menjalani kompetisi. Kata orang, PERSIBku bermain di liga yang ilegal. Kata orang juga keberadaan kami tidak diakui oleh otoritas sepak bola, sepsrti PSSI, AFC bahkan FIFA.
Yang penting buatku adalah kami menang atas lawan-lawan yang sedang dihadapi. Gembira ketika Airlangga atau Aliyuddin mencetak gol ke gawang Markus (PSMS Medan) misalnya. Atau ketika Maman merebut bola dari kaki Bambang Pamungkas (Persija). Saat itu kami tak ingat PSSI, tak ingat Johar, dan tak ingat Nurdin Halid.
Bagiku, sejak aku belajar main bola di kampung dulu, yang lahannya baru bisa dipakai bila panen usai. Maklum, tanah yang digunakan bermain olehku dan kawan-kawan, hanyalah petakan sawah yang selama beberapa bulan ditanami padi.
Sejak saat itu aku hanya mengenal kemenangan yang bila lawan tertunduk lesu. Tidak peduli, apakah akan ada pengalungan medali atau tidak, apakah ada santunan dari pak lurah atau tidak.





Komentar Terakhir